Senin, 18 April 2016

Sejarah Gereja: Pembelajaran dari Gereja Mula-mula

Sejarah dapat mengajarkan begitu banyak hal kepada manusia, baik melalui hal-hal baik dan indah maupun tidak baik dan bencana sekalipun. Ada satu macam sejarah yang sangat penting yang harus dipelajari oleh seluruh umat Tuhan, yaitu sejarah Gereja. Melalui sejarah Gereja, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang memegang kuasa atas seluruh sejarah. Di dalam artikel ini, kita akan melihat apa yang diajarkan oleh sejarah Gereja pada abad pertama.
Gereja Didirikan oleh Yesus Kristus 
Banyak hal yang terjadi dalam sejarah Gereja pada abad pertama. Namun sebelum membahas hal itu, kita harus mengingat kembali awal mulanya Gereja berdiri. Ketika membaca Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan Yesus mengatakan, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Apakah arti perkataan Tuhan Yesus ini? Hal ini adalah jaminan yang diberikan kepada Gereja-Nya dan memang jaminan ini sudah dibuktikan kebenarannya di sepanjang sejarah Gereja pada satu abad pertama. Begitu banyak hal yang terjadi dan kalau dilihat dari kacamata dunia, seharusnya Gereja tidak dapat bertahan sama sekali.
Dikatakan bahwa Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi begitu banyak tantangan, yaitu serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja, penolakan-penolakan dari agama-agama lain, perpecahan di dalam Gereja sendiri, dan tekanan serta penganiayaan dari politik atau negara. Namun sejarah mencatat bahwa ketika Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami tantangan-tantangan ini, Gereja terus dipelihara oleh Tuhan sendiri sehingga bukan saja bisa bertahan tetapi malah berkembang dengan pesat. Apakah yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Orang dunia banyak menanyakan apa rahasia di balik hal ini? Mari kita mempelajarinya dengan saksama sehingga kita, sebagai Gereja di abad ke-21, juga dapat meneruskan perjuangan Gereja yang sudah dimulai dengan sangat baik di dalam pemeliharaan Tuhan. Hal ini diperlukan demi melanjutkan sejarah Gereja sampai pada generasi yang akan datang sehingga kita dipakai Tuhan menjadi mata rantai yang meneruskan pekerjaan Tuhan melalui Gereja-Nya dan bukan menjadi pemutus rantai sejarah Gereja Tuhan.
Gereja pada Abad Pertama 
Gereja pada abad pertama biasa disebut sebagai Gereja pada zaman rasul-rasul (apostolic age). Hal ini dimulai dari hari Pentakosta (setelah kenaikan Tuhan Yesus) sampai pada kematian rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes. Periode Apostolik ini berlangsung kurang lebih 70 tahun, dari kira-kira tahun 30-100 M. Tempat berlangsungnya adalah di tanah Palestina dan secara bertahap meluas ke daerah Siria, Asia Minor, Yunani, dan Italia dengan gereja yang pusat terdapat di kota Yerusalem, Antiokhia, dan Roma. Perkembangan Gereja ini merupakan hasil perjuangan para rasul yang diwakili oleh Rasul Petrus yang banyak mempertobatkan orang Yahudi dan Rasul Paulus yang banyak mempertobatkan orang-orang non-Yahudi. Rasul-rasul lain pun tentu saja turut berbagian dalam memberitakan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia.
Namun di tengah-tengah kisah perkembangan Gereja Mula-mula ini, ada beberapa hal yang disayangkan terjadi seperti perpecahan di dalam gereja di Korintus. Hal ini terjadi karena adanya beberapa orang yang mengagung-agungkan orang-orang yang memberitakan Injil dan melayani jemaat di sana sehingga muncul golongan-golongan di antara jemaat. Selain itu, Gereja juga mengalami serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja. Paulus dan Yohanes adalah rasul yang dengan sangat jelas berjuang melawan ajaran sesat ini. Paulus mencatat hal ini di dalam suratnya kepada jemaat Galatia yang mencampuradukkan Injil Yesus Kristus dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Rasul Yohanes berperang melawan ajaran Gnostik yang mulai muncul di akhir abad pertama. Selain itu Gereja juga mengalami penolakan dari agama-agama lain yang sudah ada pada zaman itu. Namun, satu tantangan yang sangat berpengaruh terhadap Gereja adalah tekanan dan penganiayaan dari politik.
Di dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa para rasul sering kali diadili secara tidak adil, dihukum penjara, cambuk, dan sebagainya. Dicatat mulai dari pasal 5 bahwa para pemimpin agama Yahudi merasa iri dengan perkembangan kekristenan saat itu dan akhirnya memasukkan rasul-rasul ke penjara. Ini diperkirakan terjadi pada tahun 30-40 M. Dimulai dari periode inilah penganiayaan kepada Gereja Mula-mula banyak sekali terjadi. Para rasul adalah sekelompok orang Kristen yang mengalami penganiayaan terlebih dahulu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian baru dimulailah penganiayaan terhadap jemaat Kristen. Mari kita melihat hal ini dengan lebih mendetail.

Penganiayaan terhadap para pengikut Yesus diawali dengan pembunuhan Stefanus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 7. Ia memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan dituduh mengajarkan ajaran sesat sehingga ia dibawa ke hadapan imam besar dan dihakimi. Setelah memberikan pembelaan diri berupa pesan Injil Yesus Kristus, para pemimpin agama Yahudi merasa tertusuk hatinya dan akhirnya menjatuhkan kepadanya hukuman mati dengan cara dirajam dengan batu. Menurut cerita yang diturunkan melalui tradisi oral, pada saat itu Stefanus dibawa ke luar kota, dimasukkan ke dalam lubang yang sudah digali di tanah dan kepalanya dibiarkan di atas lubang tersebut dan ia dirajam dengan batu sampai mati. Hal ini terjadi delapan tahun setelah Kristus disalibkan (±35 M). Ia adalah martir pertama yang dengan berani terus bersaksi mengenai Injil. Setelah kematian Stefanus inilah orang-orang Yahudi menganiaya jemaat Kristen yang ada di Yerusalem dan menyebabkan banyak dari jemaat tersebut tersebar ke Yudea dan Samaria (Kis. 8:1).

Setelah Stefanus, Rasul Yakobus anak Zebedeus dicatat menjadi martir pada zaman pemerintahan Raja Herodes Agrippa I di sekitar tahun 44 M. Ia adalah rasul pertama yang menjadi martir dan ia mati dipenggal kepalanya bersama dengan seorang yang menangkapnya. Orang ini melihat keberanian Rasul Yakobus berjalan ke tempat eksekusi dan mendengarkan Injil yang diberitakan oleh Rasul Yakobus sehingga ia bertobat dan akhirnya mati dipenggal bersama dengan Rasul Yakobus. Pada saat yang sama, dua dari tujuh diaken, yaitu Timon dan Parmenas dari Filipi dan Makedonia juga mati dibunuh oleh karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Sepuluh tahun kemudian (54 M) Filipus pun mati martir setelah dipenjara dan dicambuk. Akhirnya ia disalibkan di Hierapolis, Frigia.

Rasul Tomas dicatat kemungkinan pergi ke India dan mendirikan jemaat di sana. Dari pencatatan sejarah, ia dihukum mati oleh penduduk lokal sekitar pertengahan abad pertama. Orang kafir menjadi marah dan menusuk Rasul Tomas dengan tombak dan melemparkannya ke dalam nyala api oven. Bersamaan dengan itu, Rasul Matius yang pergi ke Etiopia pun juga mati martir. Rasul Matius dihukum mati setelah melayani kurang lebih lima tahun dengan badannya direbahkan ke tanah dan akhirnya dipancung kepalanya di kota Nadabah atau Naddayar (60 M). Lalu Yakobus, adik Tuhan Yesus (yang menulis surat Yakobus), dicatat mati martir pada tahun 66 M. Setelah imam besar Ananus menghakimi Yakobus, ia menjatuhkan hukuman mati, namun pencatatan sejarah menyatakan cara kematiannya kurang jelas. Ada yang mencatat bahwa ia dirajam batu hingga mati, ada juga yang mengatakan bahwa ia dilempar dari menara Bait Allah namun masih belum juga mati sehingga akhirnya dipukul kepalanya dengan pentung besi.

Rasul Andreas, saudara Petrus, yang pergi mengabarkan Injil ke daerah Asia Minor, mati martir di Edessa dengan cara disalibkan pada kayu salib yang berbentuk X yang kemudian dikenal dengan Salib Santo Andreas. Markus dicatat mati martir ketika ia berbicara menentang perayaan Serapis orang Alexandria, dan menurut tradisi ia mati dengan cara diseret sampai tubuhnya terkoyak-koyak. Rasul Petrus dicatat mati martir di Roma pada zaman Nero dengan cara disalib terbalik karena ia merasa tidak layak disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhannya. Kisah ini dapat dilihat juga dalam film Quo Vadis. Rasul Paulus yang sudah dipenjara berkali-kali akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan melawan kaisar. Ia dibawa ke tiang eksekusi dan dipancung kepalanya pada tahun 66 M, tepat empat tahun sebelum Yerusalem jatuh dan Bait Allah dihancurkan. Yudas, saudara Tuhan Yesus, juga mati martir dengan cara disalibkan di Edessa, Mesopotamia, sekitar tahun 72 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar